Sabtu, 13 Juli 2013

Berselimut Hujan 

Setelah pulang kerja seperti biasa pada malam kamis aku langsung bermain futsal. dan pertandingan berakhir dengan skor 21-15 untuk keunggulan team yang aku bela. Pukul 23.15 kamipun pulang kerumah masing-masing. Gerimis mengiringi perjalanan pulangku sampai tiba di toko yang kini aku anggap sebagai “rumah”. Seperti biasa Ku ketok pintu, namun ayahku belum juga membukakan. Ku matikan lonceng listrik yang tidak “berpakaian”(tanpa wadah-Red), belum juga pintu dibuka. Aku berusaha untuk tenang dalam situasi sesulit apapun, atau biasa disebut “CALM”. Berfikir sejenak mencari cara untuk bisa masuk ke dalam. Ku amati segala sudut “rumah” namun ternyata tak ada cela sedikitpun untuk ku ajak kompromi. Hujan turun tanpa ampun membasahi jalan pantura, truk besar, bus malam, tidak terkecuali teras ‘”rumah”pun ikut basah. Mungkin dalam keadaan semacam ini jika posisiku di rumahku yang sesungguhnya. Aku bisa masuk layak nya manusia lupa atau dalam kosakata bahasa jawa biasa disebut maling. Mengapa maling? secara etimologi maling berasal dari kata Manungso Ora Eling (manusia lupa). Kerena aku paham betul dengan seluk beluk rumahku. Sedangkan “rumah” yang ini benar-benar membuatku galau. Bagaimana tidak, jangankan jendela, ventilasi pun tidak dibiarkan berkembang biak di “rumah”ini. Namun sebenarnya ada satu sudut dimana aku bisa menjalankan aksiku. Tapi itupun juga terlihat mustahil, pasalnya sudut ini di kelilingi kawat berduri dan lebatnya pohon anggur yang melekat erat di kawat itu. Antara iya atau tidak dalam pikiranku untuk melancarkan aksi, namun akal sehatku ternyata membisikanku untuk tidak mengambil resiko yang sangat tidak sebanding dengan hasilnya nanti. Yaitu resiko siap jatuh dr ketinggian 3meter karena licin, resiko menyangkut kawat berduri, dan yang paling menakutkan adalah tersengat aliran listrik yang bertegangan tinggi, karena letak kawat sangat bersahabat dengan tiang listik utama pantura, di sana sini ada kabel-kebel bertegangan yang menjulur. Huuhf,,, ku lupakan saja niat gilaku itu. 45menit berlalu, Kali ini q tidak mengetuk pintu, tapi menggedornya sekuat tenaga! Layaknya Chris jhon yang sedang latihan tinju. Jika chris jhon memakai sarung tangan tinju merah, lain halnya dengan ku, kali ini kedua tanganku yang memerah bercampur panas di telapak tangan akibat terlalu bergairah dalam menggedor pintu “rumah”, dengan harapan ayahku segera bangun dari mimpi indahnya. Namun usaha itu teryata masih sia-sia. Helm VOG putih sudah hangat di dalam tas coklatku kerena ketika hujan tadi sudah ku masukan ke dalam tas. Sepasang sepatu futsalku pun terlihat iri seraya berkata “ mengapa kami tidak kau masukan ke delam tasmu juga tuan?” Perut terasa begitu lapar, tenggorokan pun bagai berada di padang tandus yang mengharapkan tetesan air, ku putuskan untuk pergi kewarung dekat Ponpes Ribattul muta’limin grogolan untuk menghilangkan dahaga. Sebelum pergi aku meninggalkan bekal futsal yaitu 2 buah botol aqua yang sudah kosong berukuran 1500ml dan 330ml di depan pintu sebagai tanda bahwa aku sudah berusaha sekuat tenaga, tak lupa aku pastikan saklar listrik utama kumatikan agar ketika ayahku terbangun nanti dia tahu kedatanganku. Aku bergegas menuju warung, mumpung hujan reda dan mumpung uang masih laku di daratan ini. Jika di gunung berapapun banyaknya kita membawa bekal yang bernama uang, semuanya akan percuma di gunung uang tidak laku. Setelah menghabiskan satu mangkuk kacang ijo, segelas teh manis, dan sebatang rokok, akupun kembali pulang. Dalam perjalanan pulang aku benar-benar terlihat seperti orang gila. Pemuda 21th 6 bulan yang berkeliaran dimalam hari dengan membawa tas yang berisikan helm, di tangan kiri menggenggam erat sepasang sepatu futsal merk adidas warisan calon adik ipar, otomatis bertelanjang kaki dan memakai celana sport pendek 17cm di atas lutut untungnya aku masih bawa jaket yang kupluknya berfungsi menutupi muka agar puluhan mata orang yang memandang ku, tak bisa melihat jelas siapa diriku. Setelah sampai di “rumah”, Namun apa yang terjadi? Aku hanya mendapati satu pesan dalam dua botolku tadi lenyap dari tempat nya. Ilmu analisisku pun mulai mengalir, meskipun aku tahu banyak pemulung berkeliaran dimalam hari, tapi tidak mungkin kalau salah satu dari mereka yang mengambilnya. Pasalnya sekitar 50cm dari tempat botol tadi, terdampar pula botol ale-ale rasa jeruk. Maka bisa dipastikan ayahlah yang telah mengamankanya. Penderitaanku belum berhenti sampai disini, sejuta harapan di dadaku pun kembali sirna bersamaan dengan tarikan tangan yang aku khususkan untuk pintu masuk utama. Rupanya ayah mengira bahwa aku mungkin telah menginap di rumah teman dan kembali mengunci pintu serta meluncur kembali ke pulau kapas yang menjanjikan kehangatan. Terbang sudah semua angan yang tadi sudah ku bayangkan. Tentang ritual bersih-bersih badan setelah futsal, menyantap makanan sambil nonton film kungfu once upon a time in china yang diperankan oleh salah satu actor favoritku yaitu jet lee, dan menyeduh dua sachet susu indomilk coklat dan putih yang sudah ku beli tadi siang. Semuanya terbang bersama mimpiku. Mimpi yang tercipta dari hasil kelelahanku setelah beraktivitas seharian penuh. Aku pun memutuskan untuk tidur di emperan toko sebelah yang lantai nya masih kering tidak terjilat air hujan. Yang menghuni toko tersebut adalah keluarga keturunan china. Aku biasa memanggil mereka dengan sebutan kokoh dan ci’, mereka memelihara dua anjing hitam dan putih. Kakak ku pernah mendapat kan sebuah penghargaan dari anjing putih, yaitu sebuah gigitan. Yang memaksa kakak ku pun harus dibawa kerumah sakit, sedangkan yang hitam, keluarga ku biasa menyebutnya si anjing kencing karena hobinya yang suka kencing, tidak hanya sembarangan, tapi juga sangat sering. Kalau dihitung rata-rata dalam satu jam si hitam ini bisa kencing sebanyak 60kali ! Aku tidak tidur sendiri, di sebelah kiriku ada anak gelandangan yang sesungguhnya. Ia tampak begitu nyenyak dengan jaket lusuhnya.tapi akupun tidak mau kalah, kerena aku sudah terbiasa dalam kondisi seperti ini. Semuanya belum seberapa dibandingkan dengan perjuanganku dalam pendakian menuju puncak terindah ditujuh gunung yang pernah ku daki. Aku selalu berhasil melewati masa-masa sesulit apapun. Itulah anugerah yang diberikan tuhan kepada ku. Sebuah ketangguhan, tapi anehnya ketangguhan itu lenyap tak berbekas ketika seorang wanita yang aku cinta berada di hadapanku, mungkin itulah kelemahanku. Sampai saat ini aku belum juga bisa meluluh lantahkan hatinya. Ku rebahkan tubuhku di atas lantai yang berdebu. Tiba-tiba aku mendengar pintu yang terbuka. krengkett,,, Ternyata bukan ayah, melainkan om Alex, dia adalah kepala rumah tangga “china sebelah”, begitulah keluargaku akrab menyebutnya. Dengan raut wajah penasaran dan setengah tidak percaya, om Alex menghampiriku, lalu terjadilah dialog antara kami. “lho kok tidur di luar?” “iya nih om, soalnya pintunya dikunci dari dalem” jawabku sambil kembali ke posisi duduk. Om Alex semakin penasaran dan membrondong pertanyaan untuk ku, “lha emangnya yang di dalam siapa saja? Kenapa tidak ditelfon? Ada telephone rumahkan di dalam? Kok malah jadi gelandangan kaya gini?” layaknya seorang profesional dalam menjawab pertanyaan, aku pun menjawabnya dengan urut. “Cuma ayah om, mungkin dia ketiduran, bagaimana bisa telfon om, aku lupa bawa handphone, meskipun ada telephone rumah jadi percuma, nanti jam3 ayah biasanya bangun untuk sholat malam, santai aja om, udah biasa jadi gelandangan, hehehe,,,” Meskipun suasana hati sedang kacau dan galau, ku coba mengembangkan senyum khas ku, yang katanya ibuku sich senyuman termanis se Pakumbulan. Untuk basa-basi mau tidak mau akupun berbalik tanya. “Mau kemana om?” Sambil melihat lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, menunjukan 9detik lagi akan berubah warna hijau, Om Alex pun menjawab sambil melangkahkan kakinya untuk menyeberang jalan “ Mau cari makanan, maap tak tinggal dulu ya” “Iya om gak papa” aku masih bersyukur dikaruniai karakter yang fleksibel dalam menghadapi ribuan orang yang sudah pernah ku kenal, jadi aku tak ambil pusing dengan ekspresi om alex yang begitu datar melihat tetangga barunya sedang “kesusahan”. Hujan turun disertai petir-petir yang begitu bergairah untuk menemani tidurku. Si gelandangan seakan tak peduli dengan apa yang aku alami, mungkin dia mengira kalau malam ini dia ditemani “kaum” sebangsa dirinya, menengok ke arah ku sebentar lalu tidur lagi, bhleederr,,,suara petir menyambar-nyambar dan sesekali di selingi suara seperti bom meledak, hasil dari benturan oleh muatan truk-truk kontainer yang melaju cepat di atas jembatan grogolan yang memiliki ranjau lubang yang tidak sedikit. Namun semuanya ku anggap sebagai musik yang selalu setia mengantarkan tidurku, koleksi raja dangdut, tembang kenangan, gamelan wayang atau pun bossanova jawa yang semuanya begitu nikmat terdengar. Angin malam membelaiku dengan penuh kasih sayang, sesekali aku melihat kakiku yang terlihat “seksi” tanpa celana panjang atau sarung gajah duduk kesayangan. Baju bola milik Club the red devil yang masih ber sponsor AIG tak terasa sudah mengering dari keringat yang biasanya setelah futsal bisa ku peras. Entah keringat itu masuk kembali ke dalam tubuhku, atau mungkin mengering akibat suhu tubuhku yang kian memanas. Gejala-gejala kram di betis kiri, membangunkan ku dari tidur yang tidak bisa dibilang nyenyak. Jam berapa ini? Tanyaku pada diri sendiri sambil meringis kesakitan memegangi betisku yang sudah menunjukan gejala-gejala akan datangnya kram. Begitu lelahnya sampai-sampai aku ketiduran. Bergegas aku bangun untuk mengecek pintu, dan akhirnya aku melihat cahaya lampu dari dalam “rumah”. Aku yakin ayah sudah bangun, selang berapa detik setelah lampu kembali ku matikan dari luar, pintu pun terbuka. Aku melihat jarum jam menunjukan pukul 02.40 itu artinya aku sempat tidur berselimut hujan sekitar satu jam di luar.

karya : UKA https://www.facebook.com/uwank.alam?fref=ts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar